liputanwarga.com, Bengkulu Utara – Kematian seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bengkulu Utara sempat menimbulkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Peristiwa tersebut dikaitkan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang dijalankan di sekolah. Namun pihak pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa kabar tersebut tidak benar.
BGN menjelaskan bahwa siswa yang bernama Fatih itu mengalami kondisi kesehatan darurat sebelum sempat mengonsumsi makanan dari program MBG yang dibagikan di sekolah. Saat kejadian, korban dilaporkan tiba-tiba pingsan dan kemudian segera dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa korban mengalami pendarahan otak. Setelah menjalani serangkaian tindakan medis termasuk operasi bedah saraf, korban akhirnya meninggal dunia sekitar 12 jam setelah operasi dilakukan.
Untuk memastikan keamanan makanan yang disediakan melalui program MBG, sampel menu yang dibagikan kepada para siswa juga telah diuji oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dari hasil pengujian tersebut tidak ditemukan kandungan bakteri berbahaya maupun zat kimia seperti formalin, boraks, nitrit, arsen maupun sianida.
Program MBG di sekolah tersebut diketahui diberikan kepada sekitar 1.800 siswa. Hingga saat ini tidak ada laporan lain terkait gangguan kesehatan yang berkaitan dengan makanan dari program tersebut.
BGN mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab suatu peristiwa sebelum adanya hasil pemeriksaan resmi. Pemerintah juga memastikan program Makan Bergizi Gratis tetap dijalankan dengan pengawasan ketat demi menjamin keamanan dan kualitas makanan bagi para siswa.







